Andy Krisna, Penggerak Kerja Baik
Antusias giat filantropi. Aktif berkecimpung di ekosistem gerakan zakat dan wakaf. Direktur LAZ Dompet Sosial Madani Bali (DSM).
Lahir di Kota Pahlawan. Ibu merawat penuh waktu. Ayah sosok abdi negara. Masa kecil hidup di tengah keberagaman Kota Surabaya. Berkawan dengan anak-anak dari berbagai latar agama dan suku. Bersahabat dengan anak-anak disabilitas.
Mulai belajar dan bermain di TK Aisyiyah Bustanul Atfal Dinoyo, Surabaya.
Rumah orangtua berada di antara pemukiman miskin dan kaya, kampung Dinoyo Surabaya. Biasa berkawan dengan anak-anak dari keluarga miskin dan pekerja kasar. Kondisi keluarga miskin, tinggal berhimpitan dalam rumah petak di gang sempit dan buntu.
Akrab dengan anak orang kaya. Rumah besar, halaman luas, mobil mentereng, pakaian, dan mainan bagus.
Tahun 1990, turut orang tua pindah tugas ke Gresik. Bermukim di Desa Sembungan Kidul, Kecamatan Dukun. Sepanjang jalan hampran kapur. Kendaraan melintas penuh debu. Sumur air payau, tidak bisa dipakai masak. Air bersih harus beli, dikirim dalam jerigen besar.
Anak-anak kampung mayoritas sekolah di madrasah, tiap hari Jumat. Andy sekolah di SDN Kalirejo Gresik, dari kelas satu hingga kelas tiga. Hari minggu libur.
Pengalaman tak terlupakan di Dukun Gresik. Andy menikmati permainan tradisional seperti patil lele, bentengan, gobak sodor, engkle, lompat karet, dan petak umpat.
Bermain di areal tambak dan sawah. Segarnya mandi di sungai. Memancing ikan putian, ikan gabus, dan ikan keting. Ketika petani selesai kuras tambak, Andy mencari sisa ikan bandeng dan udang.
Sungai Bengawan Solo meluap akibat hujan deras di tahun 1992. Banjir besar melanda. Sempat bertahan beberapa hari di rumah. Sekolah diliburkan sampai banjir meredah. Mengisi waktu dengan bermain perahu berbahan ban dalam truk. Rumah terendam separuh, hingga akhirnya harus mengungsi ke Surabaya di rumah paman.
Usai kenaikan kelas, pindah ke Surabaya, masuk kelas empat di SDN Keputran 1. Kemudian sempat sekolah di SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya, hanya setahun.
Kemudian menetap bersama orangtua di Kota Pudak Gresik. Masuk kelas dua di SMP Muhammadiyah 1 Gresik. Andy ikut membantu teman kesulitan galang dana untuk pembangunan gedung Pramuka. Kepala sekolah kala itu, memberi kesempatan bicara di depan umum, pada saat pisah pasrah kelulusan. Pengalaman pertama public speaking. Tegang dan berkeringat. Bawa contekan sambutan, kertasnya jatuh, teman-teman hadirin tertawa.
Lanjut sekolah di SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Mulai kenal dunia organisasi. Jadi pengurus OSIS dan Ikatan Remaja Muhammadiyah. Belajar kepemimpinan, manajemen, administrasi organisasi, membuat peraturan, menyusun silabus pelatihan. Bikin even organizer di sekolah. Menjadi pemateri dan trainer di beberapa acara sekolah dan IRM. Mendapat tugas galang dana kegiatan OSIS.
Waktu SMA, turut melakukan galang dana di sekolah, untuk membantu penyintas banjir bandang Situbondo dan Bondwoso. Aktif di panitia zakat dan bakti sosial yang diadakan sekolah. Senang berbagi dan membantu orang lain.
Di penghujung SMA didaulat untuk memberi sambutan siswa dalam momen pisah pasrah. Mengangkat cerita perjuangan salah satu guru Muhammadiyah di pelosok Indonesia dan merintis Universitas Muhammadiyah Malang, Bapak Prof. Dr. K.H. Abdul Malik Fadjar, kala itu menjadi Menteri Pendidikan. Memberi kritik dan masukan ke pihak sekolah, bahwa guru harus menjadi teladan bagi siswa dalam aspek kedisplinan dan moral.
Pasca SMA, melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Ambil program studi Sosiologi. Belajar memahami fenomena sosial, mengkaji struktur masyarakat, dan persoalan sosial. Masyarakat sebagai laboratorium riset sosial.
Semasa kuliah berpartisipasi dalam galang dana untuk bencana tsunami Aceh, gempa bumi Yogyakarta. Bersama teman-teman kuliah menyalurkan bantuan sembako dan memfasilitasi layanan kesehatan untuk masyarakat miskin di daerah Malang Selatan.
Aktif dalam gerakan mahasiswa, mendapat Amanah sebagai Ketua KAMMI UMM Raya. Turut serta megkritis kebijakan pemerintah di mimbar jalanan. Diskusi dengan berbagai lintas pergerakan. Di akhir kuliah, sambil menyelesaikan skripsi, menjadi freelance marketing LMI Cabang Malang, galang dana di kampus dan luar kampus untuk kegiatan sosial.
Usai lulus kuliah, mengikuti pelatihan Social Entrepreneur, kemudian diterima bekerjadi LAGZIS Peduli sebagai Asisten Manajer, kemudia diberi amanah sebagai Kepala Cabang, dengan penempatan di Surabaya, Jakarta, Blitar, dan Denpasar.
Tahun 2010, setelah menikah, dengan dukungan istri tercinta, memutuskan tinggal dan menetap di Bali. Pulau dengan keindahan alam berpadu dengan budaya, adat istiadat yang kental, harmoni dan inspiratif.
Potret fenomena sosial dan perjalanan hidup dari waktu kecil hingga kini menjadi energi untuk terus menebar kebaikan. Dari Bali untuk Indonesia. Kelola baik untuk kerja baik.