Miskin tidak hanya perkara kekurangan harta. Ketiadaan ilmu dapat memicu kemiskinan kian dalam. Tanpa ilmu, kemiskinan akan menjadi “warisan” bagi generasi selanjutnya. Ilmu ditempuh lewat jalur pendidikan formal dan non formal.
Pendidikan formal berarti terstruktur, berjenjang, dan sistematis seperti SD, SMP, dan SMA. Pendidikan non formal dilaksanakan di luar skema pendidikan formal, salah satunya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), memfasilitasi pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C.
Pendidikan mencegah tumbuh kembang kemiskinan. Pendidikan ‘pintu ajaib’ bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk masuk menuju peradaban ilmu. Perlahan, pendidikan mengalirkan ilmu, memberi pemahaman, lalu membekas menjadi karakter dan kompetensi. Dengan ilmu, anak-anak memahami hakekat kehidupan. Ilmu jadi pegangan di tengah hiruk pikuk fenomema kerusakan moral.
Kehidupan anak miskin menjadi lebih ceria dan bermakna. Perubahan-perubahan kecil kian nyata. Anak-anak miskin yang tadinya hanya suka mie instan, tanpa lauk, karena orang tua tidak paham gizi, dan tidak mampu secara materi. Setelah mendapat cerita, bahwa tubuh membutuhkan asupan sehat seperti protein dalam nasi, telur, sayur, dan susu. Anak-anak lebih memilih makan telur. Perubahan kecil ini, prestasi istimewa bagi anak dari keluarga miskin.
Di sisi lain, anak-anak dari kelurga miskin, kerap bikin onar. Ikut gank. Terlibat tawuran dan kekerasan. Tipikal anak kelebihan energi, kurang perhatian, minim pemahaman. Pilihan jalan keluar, anak perlu dilibatkan dalam dunia kerja. Magang di rumah makan. Praktek di bengkel.
Tatkala merasakan lelah bekerja, di saat yang sama mendapat imbalan. Di situlah karakter baik mulai terbentuk. Kesadaran bahwa untuk hidup, anak perlu belajar dan bekerja. Jika ia ingin naik kelas, mau memimpim rumah makan, mau memimpin bengkel dengan upah lebih tinggi, minimal pendidikan harus SMA atau kejar paket C.
Perubahan butuh tahapan. Faktor pemicu mesti ditinjau. Ada sekian faktor jadi sebab anak tidak mendapat pendidikan. Tidak punya biaya, hanya salah satu faktor. Cukup banyak anak dari keluarga miskin, diberi beasiswa pendidikan formal, tetapi tetap putus sekolah.
Sulit konsentrasi. Lambat menyerap pelajaran. Lelah karena bantu orang tua kerja. Tidak ada yang antar. Tempat tinggal yang jauh dari tempat belajar. Harus merawat orang tua yang sakit. Orang tua atau keluarga mengeksploitasi anak. Semangat orang tua, membawa anak pergi belajar, hanya ketika mendapat santunan.
Jalan memutus mata rantai kemiskinan anak keluarga miskin, bukan diberi uang atau santunan. Tapi kesempatan belajar, akses ilmu lewat pendidikan formal. Pendidikan alternatif atau non formal. Magang di tempat kerja. Belajar wirausaha. Kesempatan raih prestasi olah raga.
Banyak lintasan menuju podium ilmu. Berliku memang. Kadang jatuh. Ada kala perlu jeda. Ibarat lari maraton, perlahan hingga capai garis finis. Jika anak tidak bisa dinasehati dengan ilmu, maka ia akan dinasehati kehidupan.
Andy Krisna
Penggerak Kerja Baik
Amil Zakat dan Nazhir Wakaf
