Mitigasi Bencana Berbasis Zakat

Oleh : Andy Krisna

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merilis, bahwa gempa yang bersumber dari zona penunjam (megathrust), bepotensi menimbulkan gempa berkekuatan besar. Kekuatan gempa mencapai lebih dari delapan magnitudo dan memicu tsunami.

Potensi gempa zona penunjam tersebar dari bagian barat Pulau Sumatera, selatan Jawa hingga Bali dan Nusa Tenggara, laut Banda, utara Papua, utara Sulawesi, timur Sulawesi Utara dan barat Halmahera. Gempa bumi merupakan bencana yang tidak dapat diprediksi kapan dan di mana secara persis akan terjadi. Bagi seorang muslim memastikan kesiapan menghadapi gempa bumi penting untuk mengurangi risiko bencana.

Mitigasi sudah semestinya dilakukan oleh seorang muslim. Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Zakat, sedekah, infak, dan wakaf dapat menjadi sumber daya untuk dialokasikan dalam mitigasi bencana, sehingga umat tangguh menghadapi bencana.

Mitigasi bencana berbasis zakat menyasar dua hal. Pertama keluarga muslim tangguh bencana. Keluarga adalah basis paling dasar kehidupan bernegara. Ketika bencana tiba, rumah dan anggota keluarga terancam dampak bencana. Anggota keluarga yang sering berada di rumah harus dilatih melindungi diri. Cek risiko bencana di sekitar rumah.

Simulasi bencana gempa dapat dimulai, latihan berlindung di bawah kursi atau kolong meja, meredam kepanikan. Atur jalur evakuasi di sekitar rumah. Siapkan tas tanggap darurat, menyiapkan lumbung pangan skala rumah, yang tetap bisa diakses ketika bencana tiba. Ubah pintu, agar lebih mudah dibuka dari dalam ke arah luar.

Kedua, jamaah masjid tangguh bencana. Setiap hari umat Islam sholat lima waktu berjamaah di masjid. Pengurangan risiko bencana sangat perlu dilakukan di area masjid, untuk menyelamatkan jamaah dari dampak bencana. Pengurus takmir, remaja masjid, harus menguasai skema pengurangan risiko bencana. Lakukan penilaian risiko bencana di sekitar masjid. Penguatan struktur masjid. Bangunan masjid memiliki akses pintu yang banyak dan lebar. Simulasi bencana bisa dilakukan sebulan sekali. Buat jalur evakuasi bencana. Penyiapan logistik dan alat kelengkapan darurat.

Alhamdulillah tim Dompet Sosial Madani (DSM) telah lama bergabung di Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bali. Misi kemanusiaan DSM berjalan dari sejak masa tsunami Aceh, gempa Jogja, gempa Padang, gempa Lombok, gempa Palu, dan daerah bencana lain. Sampai saat ini DSM terus berupaya melakukan kegiatan mitigasi bencana mulai di area kantor, sekolah, masjid, dan lingkungan desa. Mari berdoa agar dijauhkan dari bahaya bencana alam dan perbanyak amal soleh.

Leave a Reply