Pemerintah Indonesia telah merumuskan visi “Indonesia Emas 2045”. Narasi besar ini, tertuang di RPJPN 2025-2045. Visi memiliki lima sasaran, terdiri pendapatan per kapita setara negara maju, kemiskinan menuju 0% dan ketimpangan berkurang, kepemimpinan dan pengaruh dunia internasional meningkat, daya saing sumber daya manusia meningkat, serta intensitas emisi GRK menurun menuju Net Zero Emission.
Dari lima sasaran visi tersebut, peran sumber daya manusia Indonesia punya andil utama. SDM jadi kunci pencapaian seluruh sasaran visi. Pertanyaan besarnya, bagaimana kesiapan sumber daya manusia di berbagai level sektor?
Proporsi pendidikan penduduk Indonesia usia 15 tahun, didominasi tamatan SMA atau sederajat, dengan persentase 30,22%. Selebihnya SMP 22,74%, SD 24,62%, tidak tamat SD/sederajat dan belum pernah sekolah mencapai 9,01% dan 3,25% (BPS, Maret 2023). Di sisi lain SDM menghadapi fakta memilukan seperti keterlibatan judi online, terlilit pinjaaman online, narkoba, korupsi, kriminalitas, dan berbagai bentuk patologi sosial.
Visi besar penting, tetapi misi lebih utama. Visi bicara tentang capaian. Harapan untuk direngkuh. Sebaliknya, misi bicara tentang tindakan. Aksi utama, berdampak pada capaian visi. Zakat hanya 2,5%, diikuti infak-sedekah, dan wakaf, sejatinya menjadi bagian dari proses untuk mengubah mimpi Indonesia Emas jadi kenyataan. Zakat sebagai kewajiban umat Islam sekaligus wujud partisipasi bagi peningkatan kualitas SDM.
Pengelolaan zakat melalui program pemberdayan sumber daya manusia jadi solusi terbaik. Zakat berpotensi mengentaskan kemiskinan melalui jalur pendidikan. Pendidikan formal atau non formal. Sejak dini, anak-anak dari keluarga dhuafa mendapatkan pendidikan, pembinaan, dan pemenuhan gizi berkualitas. Zakat yang diamanahkan kepada amil, dialokasikan secara tepat untuk peningkatkan sumber daya manusia. Zakat melahirkan pemimpin, tenaga profesional, dan terampil yang siap bersaing di berbagai kanca kehidupan.
